
Kepercayaan adalah bahan baku paling penting dalam segala jenis hubungan.
Begitulah kalimat penting di dua bab terakhir yang saya tandai dengan stabilo kuning dalam buku popular karya Mark Manson ini, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Saya menandainya bukan hanya karena saya sepakat dengan pesan itu, lebih karena secara praktis, kepercayaan adalah kunci dalam sebuah hubungan. Baik hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan saudara, dengan rekan kerja, dengan segala jenis hubungan apa pun sebagaimana kata Mark Manson.
Bayangkan jika kepercayaan itu hilang dalam diri kita, maka yang akan kita rasakan ketidaktenangan yang berlipat-lipat. Dan kita meyiksa diri sendiri namanya jika terus memelihara itu dalam sebuah hubungan. Bukankah demikian? Komunikasikan segala sesuatnya, lalu percayalah.
Buku terbitan Grasindo satu ini mengajak kita untuk mengenali batasan diri, memilih mana yang benar-benar penting untuk kita perhatikan, menolak kepositifan yang sebenarnya toksik, dan hal-hal lain yang membuat pikiran kita terbuka terhadap self improvement.
Saya menaruh perhatian pada bahasan di bab 8 tentang ‘Pentingnya Berkata Tidak’, bukan pada sub judul ini, justru pada kebalikan kalimat tersebut. Bagi beberapa orang, berkata ‘tidak’ atau menolak suatu tawaran pekerjaan yang sebenarnya bukan tugas dia mungkin begitu sulit, tetapi bagi saya, betapa mudah mengatakannya. Mudah menolak sesuatu yang tidak disukai atau sesuatu yang memang membuat saya merasa tidak nyaman, apalagi jika itu bukan tanggung jawab saya.
Saya mulai berpikir, bukankah juga tidak baik jika seperti ini terus? Menolak kesempatan, yang boleh jadi menolak untuk berkembang (upgrade diri). Meski tidak membahas 'pentingnya berkata ya’, Mark Manson untungnya menyentil poin itu dalam setiap keputusan yang akan kita ambil, antara ‘ya’ atau ‘tidak’.
Ketika tanggung jawab atas emosi-emosi dan tindakan-tindakan kalian diatur dalam sebuah area gelap—area yang tidak jelas siapa bertanggungjawab untuk apa, siapa yang berbuat kesalahan apa, mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan—kalian tidak akan pernah mengembangkan nilai yang kuat untuk diri kalian sendiri.
Buku dengan judul Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat ini tidak seperti yang saya pikirkan sebelum membacanya. Awalnya saya mengira bersikap boda amat itu terhadap semua hal, ternyata tidak. Bersikap bodo amat yang dimaksud berarti kita masa bodoh terhadap hal yang memang tidak ada maknanya. Bagaimana sih maksudnya? Saya sarankan kamu membaca buku ini langsung untuk mendapat pencerahan yang boleh jadi mengubah sikap dan cara pandanganmu dalam mengatasi masalah. Hehehe.
Masa bodoh ke mana pun Anda pergi, akan ada 300 kilogram kesulitan yang menanti Anda. Dan itu tidak apa-apa. Intinya bukan malah menghindari kesulitan. Intinya menemukan hal sulit yang bisa Anda hadapi dan nikmati.
Komentar
Posting Komentar