Film ini disutradarai oleh
Ryan Adriandhy, diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Reda
Gaudiamo. Jujur, alasan aku tertarik nonton film ini karena Ryan sang
sutradara, yang tahun lalu sukses dengan film Jumbo. Kau tahu, film Jumbo
sangat berdampak terhadap perubahan mindset-ku
terhadap orang lain, yang awalnya berpikir,
kok ada sih orang yang seperti ini? Kok
bisa ada orang sejahat itu? Berubah jadi kayak, oh, kasihan. Mungkin dia memiliki luka masa lalu yang belum sembuh. Atau,
ya, tiap orang memang beda karakter,
namanya juga manusia.
Alasan itulah yang membuatku tertarik nonton Na Willa, selain juga aku nontonnya bareng bocil
kelas 3 SD yang baru pertama kali nonton di bioskop, yang akhir-akhir ini kalau
lagi ke rumah suka nanyain buku. Kupikir hanya Na Willa film yang cocok untuk
anak-anak seumuran dia di momen liburan Idulfitri tahun ini.
Okey, lanjut ke ulasan.
Na Willa adalah film
musikal bertema keluarga dengan latar Surabaya tempo doeloe. Yak, pakai ejaan lama memang. Entah
tepatnya berlatar tahun berapa. Sepertinya sebelum tahun 1970 karena tuisan-tulisan
yang ditampilkan dalam film seperti di papan nama toko dan lain-lain memakai
ejaan lama, sistem penulisan sebelum memakai Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan (EYD) seperti sekarang.
Na Willa adalah nama lengkap dari tokoh utamanya, gadis kecil berusia
sekitar 6 tahun. Ia anak tunggal yang memiliki darah China dari Pak (Chindo).
Na Willa tinggal di Krembangan Surabaya bersama Mak, dan ada Mbok juga sebagai
asisten rumah tangga. Sedangkan Pak jarang pulang karena bekerja di pelayaran. Karena
ayahnya Willa atau Pak ini jarang pulang, Willa lebih banyak menghabiskan waktu
dengan Mak. Sering ikut Mak ke pasar. Belajar membaca dan menulis dari Mak. Nilai-nilai
karakter juga banyak Willa dapatkan dari Mak. Kalau dalam Islam, benar-benar the real madrasah pertamanya Willa. Sementara
peran Pak tetap sebagai pemimpin yang mendukung penuh. Pendukung utama Mak,
juga Willa. Pak suka sekali mengirim buku cerita untuk Na Willa, juga
menjadikannya oleh-oleh ketika pulang.
Dalam ulasan ini aku tidak akan membahas dari sudut pandang anak-anak, melainkan
lebih melihatnya dari kacamata orang dewasa, khususnya bagaimana peran orang
tua dalam membersamai anaknya.
Yang aku tangkap dalam film ini secara implisit, tidak mudah menjalankan
hubungan long distance marriage (pernikahan
jarak jauh) apalagi saat ada anak yang idealnya membutuhkan peran kedua orang
tua. Tidak mudah, akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Mak membuktikan itu.
Ketika Mak menanamkan kejujuran pada Willa contohnya. Mak bilang, jangan
pernah berkata bohong. Kalau kita melakukan itu, ibarat ada kerikil yang masuk
dalam sepatu, membuat tidak nyaman pemakainya dan bikin susah ketika berjalan.
Mak kemudian diuji dengan kata-katanya sendiri. Ketika ada teman Willa yang
mengajak bermain di dekat rel kereta api, hampir saja Willa ikut ketika
temannya itu mengatakan Willa bisa membantu membaca tanda-tanda, tapi Mak keburu
keluar rumah, melarang Willa dengan tegas dan berbohong kalau Willa tidak bisa
ikut karena Pak akan pulang. Padahal baru beberapa hari sebelumnya Pak berkirim
surat, mengabarkan kalau tidak bisa pulang. Willa sendiri yang membaca isi suratnya.
Mak terpaksa berbohong demi kebaikan anaknya. Willa menangis ketika Mak
melarang, lebih-lebih karena ia sadar Mak telah terang-terangan berbohong dan
tambah syok ketika selang beberapa lama teman yang baru saja mengajak Willa
bermain, kena serempet kereta api yang mengharuskan kakinya diamputasi.
Atas kejadian itu, Willa merasa bersalah pada temannya karena tidak bisa
menjadi pembaca tanda. Mak juga merasa bersalah karena telah berbohong. Saat scene ini Mak terlihat rapuh, seperti,
terasa betapa berat mendidik anak sendirian. Kabar baiknya, Mak dan Pak selalu
menjaga komunikasi satu sama lain. Mak selalu mengabarkan perkembangan Willa,
dan pesan Pak selalu mengandung solusi.
Mak selalu ada untuk Willa. Mak yang tegas sekaligus penyayang. Meski
tegas, bukan berarti Mak suka marah-marah. Selain mengajarkan Willa kejujuran,
Mak juga mengajarkan agar Willa bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dia
lakukan. Ketika Willa memelihara ayam. Ketika Willa membuat kotor sprei yang telah
dicuci. Ketika Willa membongkar radio, dsb.
Tidak ketinggalan momen ketika akhirnya Mak memutuskan Na Willa bisa
bersekolah, seperti teman-temannya. Di sekolah pertama, tidak cocok untuk Na
Willa. Guru kelasnya tidak ramah. Belum lagi teman-teman Willa juga sama, tidak
ada sambutan, tidak ada kerja sama. Karena diremehkan oleh guru dan diganggu
teman-temannya, Na Willa kabur dari sekolah dan tidak mau lagi pergi ke sekolah.
Mendapati Willa di rumah, Mak marah. Willa takut-takut ketika diminta
bercerita. Pada akhirnya Willa berani bercerita dan Mak langsung ke sekolah, memastikan
apakah cerita anaknya benar. Sampai di dalam kelas, Mak tahu anaknya tidak
berbohong, tulisan di papan adalah buktinya.
Bersama Na Willa, Mak mencari sekolah baru. Setelah lama berkeliling
dengan bersepeda, ketemu juga taman kanak-kanak yang cocok. Buku-buku di
sekolah itu banyak, dan yang terpenting, gurunya ramah. Scene ini seperti punya pesan, pentingnya mencari sekolah yang baik dan tepat untuk anak, tidak asal menyekolahkan. :)
Film ini menarik dan bisa ditonton oleh kalangan dewasa maupun anak-anak. Film ini juga mengandung ajakan tentang kesadaran akan pentingnya literasi, sama seperti film Jumbo. :)
.webp)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar