Nostalgia Nilai-Nilai dari Tere Liye Lewat Janji

Awalnya, mendapatkan rekomendasi novel Janji dari postingan para pecinta buku di media sosial. Di antara daftar novelnya Bang Tere, orang-orang pada memasukkan Janji di grade paling atas dan mereka bilang tokoh utama dalam novel ini adalah Sri Ningsih versi laki-laki—protagonis di novel Tentang Kamu, novel Tere Liye lainnya. Saya pikir, menarik. Terlebih sudah lama saya tidak membaca novel karyanya Tere Liye, terakhir membaca Teruslah Bodoh Jangan Pintar, Oktober dua tahun lalu (berdasarkan arsip).

Novel ini bercerita tentang perjalanan Hasan, Baso dan Kaharuddin mencari Bahar sang protagonis, lebih tepatnya menceritakan kehidupan Bahar dengan lima pusaka yang dijalaninya selepas ia keluar dari sekolah agama. Alih-alih memakai kata pesantren, Tere Liye lebih memilih frasa sekolah agama untuk mendukung latar ceritanya.

Diksi (gaya bahasa) Tere Liye itu khas, bukan yang penuh romansa dan mendayu-dayu, melainkan diksinya sederhana dan mudah dipahami pembaca. Saya pikir itulah alasan kenapa novel-novel Bang Tere banyak digemari oleh para pelajar.

Saat membaca bab pertama, saya langsung mengenali diksinya. Memang beginilah ciri khas tulisan-tulisan Bang Tere dari sejak pertama kali saya membaca novelnya; Hafalan Salat Delisa hingga yang terakhir saya baca Teruslah Bodoh Jangan Pintar.

Masih di bab awal, tepatnya di bab Capjiki, est. 1938, pada kalimat mereka menemukan simpul pertamanya, tiba-tiba mata saya sudah berkaca-kaca. Novel-novel Bang Tere yang sudah saya baca sebelumnya seperti menguar lalu memenuhi ingatan. Kalau dirasa-rasa, betapa saya tumbuh dengan nilai dan pemahaman-pemahaman yang Bang Tere tawarkan lewat novel-novelnya. Sedikit-banyak saya rasa tulisan Bang Tere memengaruhi kepribadian.

Kembali pada kisah Bahar. Ia seorang yatim piatu. Sering berulah dan membuat geger masyarakat, karena itulah neneknya menitipkan Bahar di sekolah agama. Berharap Bahar bisa berubah. Namun, bukannya berubah, ulah Bahar semakin menjadi-jadi, sering keluar dari pondok, mengganggu tetangga dan penduduk sekitar, mabuk-mabukan, masih suka menyabung ayam dan puncaknya saat Bahar membuat meriam bambu dengan menggunakan bubuk mesiu, menyambarlah ke salah satu bangunan di pondok yang menyebabkan kebakaran dan temannya meninggal karena kebakaran itu.

Buya, tokoh agama yang masyhur sekaligus pimpinan sekolah agama itu, menyerah mendidik Bahar. Buya tahu Bahar berulah karena ia ingin keluar dari pondok. Buya mengabulkannya, beliau melepaskan Bahar dengan syarat Bahar berjanji akan memegang lima pusaka dalam kehidupan yang akan ia jalani selepas dari sekolah agama itu.

Sementara Hasan, Baso dan Kaharuddin adalah generasi berikutnya, murid dari Buya Muda (saya menyebut demikian). Buya Muda adalah anak dari Buya yang dulu menerima dan mendidik Bahar di sekolah agama, yang sekarang meneruskan kepemimpinan di sekolah agama tersebut. Tiga sekawan itu, Hasan, Baso dan Kaharuddin, ditugaskan oleh Buya Muda untuk mencari Bahar dan menyampaikan permintaan maaf Buya (almarhum ayahnya) karena dulu telah menyerah dalam mendidik Bahar.

Tiga sekawan itu murid yang juga suka berulah di pondok, tetapi Buya Muda tidak akan seperti ayahnya dulu. Kata Buya Muda, sebagai guru dia tidak boleh menyerah atas murid-muridnya. Selain itu, Buya Muda berharap dengan tugas yang diberikan kepada tiga sekawan itu, dapat memberikan mereka banyak pelajaran. Dimulailah perjalanan mencari Bahar oleh tiga sekawan itu dengan segala kemudahan dan kisah Bahar yang mengetuk pintu nurani.

"Perjalanan mengajarkan banyak hal. Orang-orang terbaik di muka bumi, mereka selalu melakukan perjalanan. Melihat dunia luar". (Hlm. 33-34)

Saya menangis membaca kisah hidup Bahar. Itu sudah pasti. Pun tersenyum dan tertawa sesekali. Nuansa novel ini juga mirip dengan novel Bang Tere yang lain, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Ayahku Bukan Pembohong, dan Rindu. 

Di bab-bab berikutnya, saya malah teringat novel Bang Tere yang berjudul Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Perasaan jatuh cintanya sama, malu-malunya, penuh harap dan berbunga-bunganya.

Apakah tiga sekawan itu berhasil menemukan Bahar? Ya, mereka berhasil menemukan jejak hidup bahar. Kalau untuk pertanyaan apakah mereka bertemu dengan Bahar, sebenarnya kita sudah mendapat jawabannya di sampul buku. Ada gambar makam dan nisan pada sampul buku, jelas protagonis dalam novel ini telah meninggal. Tiga sekawan itu tidak bertemu dengan wujud Bahar, tetapi mereka mendapat banyak pelajaran dari kisah dan kepribadian Bahar Safar (nama lengkapnya).

Lima pusaka itu adalah:
Pertama, selalu hormati dan bantu tetanggamu.
Kedua, selalu lindungi yang lemah dan tebraniaya.
Ketiga, senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri.
Keempat, bersabarlah atas apa pun ujianmu.
Kelima, bersedekah, bersedekah, dan bersedekahlah.

Bahar, betapa langka orang-orang seperti sosoknya. Saat masih muda, Bahar memang memiliki sikap yang buruk. Namun sesungguhnya, akhir hiduplah yang menentukan baik dan buruknya seseorang. Walau tokoh fiktif, berharap bisa menjadi orang baik seperti Bahar yang kehadirannya memberikan banyak manfaat untuk orang lain. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw.,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ 

 "Sebaik-baiknya manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain."


Novel Janji ini, tentu saja saya sangat merekomendasikannya untuk dibaca, terutama bagi kalian yang menyukai kehidupan yang sederhana, menyukai kejujuran dan kebenaran. Saya menyukai novel-novel Tere Liye karena alasan ini. Bang Tere konsisten menanamkan nilai-nilai ini dalam novel-novelnya.

"Kita selalu bisa memilih, bersabar atau marah. Bersyukur atau ingkar. Bahkan saat situasi itu memang menyakitkan, boleh jadi tetap ada kebaikan di sana. Dan orang-orang yang sabar dan bersyukur akan memilih mengingat hal-hal yang baik dibandingkan yang menyakitkan." (Hlm. 428)

Saya akan tutup tulisan ini dengan ucapan terima kasih kepada Mbak Aisyah Sariasih, telah meminjamkan buku ini untuk saya baca. Saya pikir, meminjamkan buku kepada orang lain termasuk amal kebaikan (boleh jadi amal jariyah).

Dulu saya juga dikasih pinjam novel-novel Tere Liye oleh almarhumah Mbak Alif. Oleh Bu Gemala dan Bu Iis. Jazakumullah khairan katsiran untuk semuanya. 🙏🏻😊


Komentar