Tin, Zaitun dan Negeri yang Diberkahi

Apa yang terlintas pertama kali saat mendengar Tin dan Zaitun? 

Sebagian besar umat manusia barangkali hanya pernah mendengar namanya tetapi tidak pernah melihat bentuknya, juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Sebagian yang lain barangkali mengingat buah tin memiliki rasa yang manis dan buah zaitun sebagai bahan utama minyak zaintun yang dapat dijadikan campuran salad atau untuk bahan kecantikan. Orang mukmin barangkali akan lain lagi, boleh jadi akan teringat dengan ayat Al-Qur'an yang berbunyi, wattini wazzaitun.

Tahukah, bahwa ada satu tempat yang identik sekali dengan kedua buah tersebut, keduanya tumbuh subur di sana. Tempat itu bernama Baitul Maqdis di Syam (Palestina), yakni sebuah negeri yang tanahnya disucikan (ardhul muqaddas) sekaligus tanah yang diberkahi sekelilingnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala bahkan bersumpah dengan dua buah ini, menunjukkan kemuliaan tempat tumbuhnya seperti kemuliaan Bukit Thurnisia (Gunung Sinai) dan Negeri yang aman (Mekkah), sebagaimana tafsir QS. At-Tin ayat 1-3.

Allah Swt. menciptakan buah tin dan zaitun dengan segudang manfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Namun, apa yang perlu kita sadari betul sebagai seorang mukmin ialah dua buah ini, terutama zaitun adalah sebagai sumber ekonomi rakyat Palestina yang sedikit demi sedikit dirampas kepemilikannya oleh penjajah Zionist, dimulai sejak runtuhnya kekhalifaan Ottoman hingga saat ini. Kita tidak sedang membicarakan Jalur Gaza yang hancur lebur, kita sedang membicarakan Palestina sebagai negara yang dijajah termasuk di dalamnya West Bank (Tepi Barat), Jalur Gaza dan Masjid Al-Aqsha sebagai satu kesatuan.

Agaknya terlalu membesar jika tidak mengembalikan pembahasan sesuai judul tulisan. Pada intinya yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, ingatlah selalu pada negeri yang banyak ditumbuhi buah tin dan zaintun bernama Palestina— yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsha dan telah Allah berkahi sekelilingnya—sampai saat ini masih dijajah. Sebagai umat Islam dan sebagai seorang mukmin, di manakah posisi kita saat ini dalam membela Palestina? Peran apa yang telah kita ambil sebagai wujud kepedulian terhadap kemerdekaan Palestina? Apakah sebagai pejuang boikot? Pendidik generasi yang mengarahkan pada Iman dan Islam? Yang menggalang donasi? Yang selalu menyuarakan Palestina di media sosial? Atau peran-peran lainnya?

Hanya karena tempat tinggal kita jauh, bukan berarti hati kita tidak terpaut dengan Syam dan Palestina sebagai bagian di dalamnya. Hati umat Islam idealnya selalu dekat satu sama lain. Dengan Tuhan yang sama, kitab yang sama, nabi yang sama, serta surga sebagai tujuan bersama, hati kita pastinya sedikit banyak akan condong pada kemerdekaan Palestina karena di sanalah tempat hijrah (kiblat keimanan) terbaik di akhir zaman. Kata Nabi Muhammad saw., "Apabila penduduk Syam binasa (rusak keimanannya), maka tidak ada kebaikan lagi di tengah kalian (umat ini)."

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (tafsir QS. Al-Anbiya' ayat 71), Negeri Syam adalah pondasi tempat untuk berhijrah. Segala sesuatu yang tidak ada di penjuru negeri, akan ditemukan di Syam. Dan yang tidak ditemukan di Syam, akan ditemukan di Palestina. 

demi tin yang semanis cinta
dan zaitun yang memancar cahaya
kelak umat manusia berjumpa
di Padang Mahsyar namanya
amal menjadi saksi segala
atas jiwa-jiwa pengelana

Pamekasan, 27 Juli 2026
Maftuhatin Nikmah

Komentar