Berburu buku itu menyenangkan, tentu saja. Namun, siapa yang menyangka bahwa aktivitas itu semakin ke sini semakin menjadi hal yang mahal.
Teringat saat masih di pesantren, ada satu waktu novel-novel berdatangan dari luar, dijual, dan aku selalu ikut berkerumun. Bukan untuk membeli, tetapi untuk melihat siapa saja yang membeli novel-novel itu lantas kemudian aku antre meminjam kepada mereka yang membelinya. Kalau mengingatnya saat ini, kok kayak menyedihkan yak. Wkwkwkw.
Untungnya waktu itu tidak muncul perasaan sedih, insecure atau apalah istilah-istilah dalam memvalidasi emosi yang kekinian, justru meski tidak ikut membeli excited banget ketika ada teman punya novel, fine and fun aja, karena itu berarti aku bisa meminjam kan. Benar-benar tidak ada malu-malunya. 😆
Bagaimanapun, waktu itu, membeli buku belum ada dalam list rencana anggaran. Uang kiriman hanya cukup untuk belanja sehari-hari dan untuk ditabung buat beli barang-barang lain (selain buku). Kalau ada lebih dana dari apa yang sudah dianggarkan, baru deh bisa beli novel (eh, setelah cek lemari, ternyata cuma punya dua novel saat masih di pesantren 😅). Untuk buku selain novel? Jangan ditanya, dulu buku-buku non-fiksi tidak laku kalau di pesantren, entah kalau zaman sekarang.
Barulah sejak memasuki dunia kerja, buku mulai ada di list anggaran dan paling tidak dalam setahun terealisasi minimal satu-dua buku impian. Bukan semata-mata untuk koleksi, melainkan untuk kebutuhan hidup, vitamin untuk hati dan otak. Juga karena meminjam buku saat ini tidak sepraktis dulu. Pun durasi membaca tidak sekilat dulu. Apalagi saat ini bukan yang suka sekali membaca buku seperti dulu (lagi-lagi).
Kalau mendengar penuturan A. Fuadi (penulis novel best seller Negeri 5 Menara) mengenai perbandingan harga buku di Indonesia dan Amerika, nyesek banget. Katanya, buku di Amerika mudah dijangkau masyarakat karena harga satu buku setara dengan harga satu porsi makan. Harga buku baru kalau di Indonesia setara dengan 3 porsi makan yang seharga Rp15.000 per porsinya, itu pun sudah yang paling tipis. Benar-benar harga buku di Indonesia tidak ramah untuk masyarakat umum. Tega sekali pemerintah!
Namun, kapan hari aku menemukan pesan yang manisss banget dan aku sangat sepakat. Begini kalimatnya, "Tidak ada yang namanya buku bekas, setiap buku itu baru bagi yang pertama membacanya."
Nah, jadi pengen berburu buku yang sudah dibaca dan dilepas pemilik awalnya, agaknya in this economy (kalimat yang kerap dipakai saat ini) membeli buku seperti ini lebih ramah di kantong pembaca daripada membeli buku baru dari penerbit, apalagi di Gramedia. Kalau buku bajakan mah ya pasti jangan dibelilah.
Penting kiranya menyisihkan pendapatan untuk membeli buku. Kalau bisa tiap bulan. Kalau belum bisa, minimal satu tahun satu buku. Yang lebih penting daripada itu tentu saja kebiasaan membaca buku. Jadi kasarnya begini, tidak penting bisa membeli buku atau tidak, yang penting kita tidak pernah berhenti membaca buku. Minimal satu bulan khatam satu buku, kalau belum bisa, minimal satu tahun khatam satu buku. Tidak harus membeli, karena kita bisa meminjamnya.
Kan bisa membaca buku non-fisik? Maksudmu buku digital? Ya silakan, jika kamu merasa nyaman dengan itu. Sama satu hal yang jauh lebih penting dari membaca buku, membaca Al-Qur'an dan terjemahannya. Ini paten, tidak bisa ditawar-tawar. Kamu harus khatam membaca Al-Qur'an minimal sekali dalam dua-tiga bulan, apalagi jika kamu seorang laki-laki. :)
Komentar
Posting Komentar