![]() |
| Gambar ini dbuat di Canva |
Begitulah yang dirasakan
oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya ketika hijrah meninggalkan Mekkah
menuju Madinah, meninggalkan rumah, harta benda, bahkan meninggalkan keluarga
dan teman karib.
Ada alasan-alasan di balik
hijrahnya Nabi Muhamamd Saw. dan para sahabat ke Madinah. Ada sebab-sebab yang
mengharuskan Nabi dan para sahabat meninggalkan Mekkah dan berpindah tempat
tinggal di kota baru, yaitu di kota Madinah. Di antara sebab-sebab itu ialah:
1. Kesulitan
Berdakwah di Mekkah
Nabi Muhammad saw.
diutus menjadi Rasul pada usia 40, tahun
611 Masehi. Momen ini ditandai dengan turunnya wahyu pertama dari Allah
Swt. melalui Malaikat Jibril, di Gua Hira.
Dari hari
pertama sampai tahun ke-3 semenjak Nabi Muhammad saw. diutus menjadi Rasul,
Nabi Muhammad melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam. Dakwah
Nabi selama 3 tahun pertama tersebut hanya disampaikan kepada keluarga terdekat
dan para sahabatnya yang terpercaya seperti istri nabi, Khadijah ra., Ali bin
Abi Tahlib (sepupu paling dekat beliau), Abu Bakar (bestie), dan
kerabat serta sahabat dekat lainnya.
Dakwah artinya seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran
agama Islam. Dakwah secara sembunyi-sembunyi adalah strategi untuk membangun
dan memperkokoh fondasi pengikut yang kuat, yang mendukung dalam penyebaran
Islam menuju dakwah secara terang-terangan. Setelah 3 tahun, barulah Nabi
Muhammad berdakwah secara terang-terangan kepada kaum Quraisy di Mekkah.
Bagaimana respon kaum Quraisy terhadap seruan Nabi?
Nabi
Muhammad mengalami kesulitan berdakwah di Mekkah karena adanya banyak penolakan
dari kaum Quraisy ketika Nabi mulai berdakwah secara terang-terangan, khususnya
penolakan dari para pembesar (pejabat) kaum Quraisy. Bentuk-bentuk penolakannya
seperti:
-
Menolak Allah sebagai
Tuhan, mereka meyakini tuhan mereka adalah berhala yang disembah dan diletakkan
di dekat ka’bah (patung). Kaum Quraisy sudah ratusan tahun menyembah berhala,
sehingga ketika ajaran tauhid (Islam) datang, malah dianggap sebagai ancaman
bagi tradisi nenek moyang mereka. Bagi kaum Quraisy, ajaran Islam dianggap
bertentangan dengan agama nenek moyang mereka.
-
Menolak ajaran agama Islam karena
para pembesar Quraisy takut kehilangan pengaruh
dan kekuasaan yang telah mereka jabat.
-
Alasan
lain yang membuat para pemuka Quraisy menolak masuk Islam adalah karena ekonomi
dan status sosial. Para pemuka Quraisy khawatir kalau mereka mengikuti ajakan
nabi Muhammad saw. untuk masuk Islam, maka ekonomi dan status sosial yang telah
mereka miliki akan hilang. kaum Quraisy merasa kehilangan
gengsi bila menerima Islam, karena Islam mengajarkan persamaan derajat (budak
& tuan sama di hadapan Allah).
-
Nabi
Muhammad saw. berdakwah di Mekkah selama 13 tahun, 3 tahun dilakukan secara
sembunyi-sembunyi, 10 tahun kemudian dilakukan secara terang-terangan. Selama
itu, hasil dakwah Nabi tidak banyak menyentuh kaum Quraisy, meski dilakukan
selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, tidak banyak orang-orang yang menjadi
pengikut nabi, tercatat kurang lebih hanya ada 100-200 orang pengikut saja.
2. Penindasan
Kaum Quraisy
Bukan hanya penolakan yang diterima
Nabi Muhammad saw. ketika berdakwah di Mekkah, tetapi juga penindasan hingga
ancaman pembunuhan. Kaum Quraisy menentang keras dakwah Nabi
Muhammad, mereka menyakiti Nabi dan para sahabat terutama para sahabat yang
lemah seperti dari kalangan budak: Bilal, keluarga Ammar bin Yasir hingga Ibu Ammar
yang namanya Sumayyah mati terbunuh karena siksaan yang luar biasa berat.
Sumayyah adalah wanita Islam pertama yang mati dalam keadaan syahid di tangan
Abu Jahal, seorang pembesar Quraisy yang paling menentang dakwah Rasulullah
saw..
Selain menyiksa, kaum Quraisy juga
memboikot umat Islam. Memboikot artinya menolak berhubungan dan bekerja sama
dengan kaum muslim. Apa saja yang diboikot? Berikut penjelasannya.
-
Kaum muslim diboikot tidak boleh berdagang. Orang-orang
muslim tidak boleh membeli dan menjual apa pun kepada kaum Quraisy. Begitupun
sebaliknya, orang Quraisy tidak boleh membeli dan menjual apa pun kepada kaum
muslim.
-
Kaum muslim diboikot tidak boleh menikah dengan kaum
kafir Quraisy, begitu juga sebaliknya. Yang sudah terlanjur menikah, harus
bercerai/diceraikan.
-
Tidak boleh bergaul dengan kaum Muslim. Semua orang
Quraisy dilarang bergaul dan berbicara dengan kaum muslim
Meskipun Nabi
Muhammad saw. dan para sahabat mendapat banyak tekanan dan siksaan, itu semua
tidak membuat Nabi Muhammad saw. berhenti menyampaikan ajaran-ajaran Islam.
Justru pengikut Nabi Muhammad bertambah dari yang awalnya belasan, puluhan
hingga menjadi ratusan. Hal ini tentu membuat kaum Quraisy semakin geram
sehingga muncul usulan agar melenyapkan/membunuh Nabi Muhammad. Alahmadulillah,
sayangnya rencana pembunuhan itu tidak pernah berhasil. Selain itu, Kondisi
Mekkah tidak lagi aman untuk beribadah dan berdakwah, sehingga Islam
membutuhkan tempat yang aman yang bisa menerima ajaran Islam dengan lapang.
3. Kesempatan
Dakwah Baru di Madinah
Islam
membutuhkan tempat yang lebih aman untuk berkembang, dengan masyarakat yang
terbuka menerima ajaran tauhid. Masyarakat Yastrib hadir menyambut baik agama
Islam dan menawarkan penerimaan serta perlindungan kepada Rasulullah saw.
Kesempatan
dakwah baru itu ada di kota Yastrib, kota yang sebagian penduduknya sudah
mengenal Islam dan memeluknya. Orang-orang mukmin di Yastrib mau menerima
kehadiran Rasulullah dan para sahabatnya. Bukan hanya itu, merekalah yang
meminta Rasulullah untuk pindah ke kota Yastrib, karena di kota itu dibutuhkan
sosok pemimpin yang adil yang bisa menyatukan suku-suku yang awalnya banyak
berselisih.
Sebelumnya,
penduduk Yastrib sering berkonflik antar suku. Mereka menginginkan pemimpin
yang adil dan mampu mendamaikan, dan Nabi Muhammad saw. dipandang tepat untuk
itu.
Sebelum
Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah, sekelompok penduduk Yastrib sudah pernah
berjumpa dengan Nabi pada saat mereka melakukan perjalanan ke Mekkah untuk
berziarah ke Ka’bah. Nabi menemui rombogan jamaah dari Yastrib untuk mengajak
mereka masuk Islam. Mereka tertarik pada ajakan Nabi Muhammad yang kemudian
mereka masuk Islam dan dilakukanlah sumpah setia (baiat) kepada Nabi di bukit
Aqabah. Mereka bersyahadat (masuk Islam), berjanji setia kepada Nabi, menerima ajaran
Islam, dan siap melindungi beliau.
Penduduk
Yastrib yang pulang dari Mekkah setelah dilakukannya Baiat Aqabah, menyebarkan
Islam kepada penduduk di kotanya, ditemani sahabat nabi bernama Mus’ab bin
Umair yang diutus khusus oleh Nabi untuk menemani dakwah mereka.
Letak kota Yastrib berada di jalur
perdagangan, ketika cahaya Islam sudah sampai di kota Yastrib, Islam bisa cepat
menyebar ke berbagai daerah. Medannya juga lebih aman dibanding Mekkah.
Ketika
Nabi Muhammad dan para sahabat tiba di Yastrib, Nabi mengganti nama kota itu
menjadi Madinah hingga nama itu dikenal sampai sekarang. Penduduk Madinah yang
sudah masuk Islam benar-benar menjadi Anshar (penolong). Mereka menyambut kaum
muslim yang berhijrah dari Mekkah (Muhajirin) dengan penuh persaudaraan.
4. Perintah
Allah dan Strategi Dakawah
Hijrah bukan sekadar strategi yang
dirancang oleh Rasulullah saw., tetapi hijrah adalah perintah langsung dari Allah sebagai
jalan keselamatan dan langkah baru bagi perkembangan Islam.
Selama 13 tahun Nabi Muhammad
melakukan dakwah di Mekkah, tetapi belum membuahkan hasil yang banyak, justru
Nabi dan para sahabat menerima banyak tekanan dan penindasan. Kalau hijrah
memang murni kemauan Nabi, bukankah pasti sudah dilakukan sejak lama? Karena perintah
hijrah dari Allah Swt. belum turun, makanya Nabi tetap bertahan melakukan
dakwah di Mekkah dengan segala ujiannya. Ketika perintah hijrah dari Allah Swt.
suda turun, barulah Nabi dan para sahabat hijrah/pindah dari Mekkah.
Salah satu ayat yang menunjukkan tentang perintah hijrah ada di dalam Al-Qur’an, di antaranya:
“Sesungguhnya orang-orang yang
diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (karena tidak mau
berhijrah), malaikat berkata: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab:
‘Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)’. Malaikat berkata:
‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dari sana?’ Maka,
tempat mereka itu (neraka) Jananam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.
An-Nisa’: 98)
Hijrahnya Nabi Muhammad
saw. dan para sahabat juga merupakan strategi dakwah, agar agama
Islam dan ajarannya bisa lebih dikenal secara luas, tidak hanya di satu kota
seperti waktu di Mekkah. Dengan Nabi Muhamamd saw. dan para sahabat hijrah ke
Madinah, Islam semakin berkembang pesat dan meluas ke seluruh jazirah Arab
karena di kota itu, kaum muslim tidak lagi menerima siksaan. Madinah kemudian menjadi
pusat peradaban Islam pertama.
Pamekasan, 07 Oktober 2025
*Tulisan ini dibuat dalam rangka sebagai materi ajar Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) untuk Fase B/Kelas 4, dengan tema: Kisah Hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah


Komentar
Posting Komentar