Kenapa Nabi Muhammad dan Para Sahabat Hijrah dari Mekkah ke Madinah?

 

Gambar ini dbuat di Canva

 Hijrah bukanlah perkara mudah. Hijrah berarti berpindah tempat. Bayangkan kita punya rumah yang nyaman, tempat kita menghabiskan masa kecil dengan penuh keceriaan bersama teman, juga kenangan yang begitu manis bersama keluarga. Bagaimana perasaan kita ketika harus meninggalkan semua itu? Meningglkan rumah. Berpisah dengan teman-teman sepermainan. Meninggalkan kota tempat kita dilahirkan. Meninggalkan harta benda yang kita miliki seperti kendaraan, mainan, dan lain sebagainya. Coba dibayangkan bagaimana jika itu terjadi pada kita, pasti merasa sedih dan berat bukan? Apalagi jika hijrahnya tanpa membawa harta yang kita miliki.

Begitulah yang dirasakan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya ketika hijrah meninggalkan Mekkah menuju Madinah, meninggalkan rumah, harta benda, bahkan meninggalkan keluarga dan teman karib.

Ada alasan-alasan di balik hijrahnya Nabi Muhamamd Saw. dan para sahabat ke Madinah. Ada sebab-sebab yang mengharuskan Nabi dan para sahabat meninggalkan Mekkah dan berpindah tempat tinggal di kota baru, yaitu di kota Madinah. Di antara sebab-sebab itu ialah:

1.      Kesulitan Berdakwah di Mekkah

Nabi Muhammad saw. diutus menjadi Rasul pada usia 40, tahun 611 Masehi. Momen ini ditandai dengan turunnya wahyu pertama dari Allah Swt. melalui Malaikat Jibril, di Gua Hira.

Dari hari pertama sampai tahun ke-3 semenjak Nabi Muhammad saw. diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam. Dakwah Nabi selama 3 tahun pertama tersebut hanya disampaikan kepada keluarga terdekat dan para sahabatnya yang terpercaya seperti istri nabi, Khadijah ra., Ali bin Abi Tahlib (sepupu paling dekat beliau), Abu Bakar (bestie), dan kerabat serta sahabat dekat lainnya.

Dakwah artinya seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama Islam. Dakwah secara sembunyi-sembunyi adalah strategi untuk membangun dan memperkokoh fondasi pengikut yang kuat, yang mendukung dalam penyebaran Islam menuju dakwah secara terang-terangan. Setelah 3 tahun, barulah Nabi Muhammad berdakwah secara terang-terangan kepada kaum Quraisy di Mekkah. Bagaimana respon kaum Quraisy terhadap seruan Nabi?

Nabi Muhammad mengalami kesulitan berdakwah di Mekkah karena adanya banyak penolakan dari kaum Quraisy ketika Nabi mulai berdakwah secara terang-terangan, khususnya penolakan dari para pembesar (pejabat) kaum Quraisy. Bentuk-bentuk penolakannya seperti:

-     Menolak Allah sebagai Tuhan, mereka meyakini tuhan mereka adalah berhala yang disembah dan diletakkan di dekat ka’bah (patung). Kaum Quraisy sudah ratusan tahun menyembah berhala, sehingga ketika ajaran tauhid (Islam) datang, malah dianggap sebagai ancaman bagi tradisi nenek moyang mereka. Bagi kaum Quraisy, ajaran Islam dianggap bertentangan dengan agama nenek moyang mereka.

-     Menolak ajaran agama Islam karena para pembesar Quraisy takut kehilangan pengaruh dan kekuasaan yang telah mereka jabat.

-     Alasan lain yang membuat para pemuka Quraisy menolak masuk Islam adalah karena ekonomi dan status sosial. Para pemuka Quraisy khawatir kalau mereka mengikuti ajakan nabi Muhammad saw. untuk masuk Islam, maka ekonomi dan status sosial yang telah mereka miliki akan hilang. kaum Quraisy merasa kehilangan gengsi bila menerima Islam, karena Islam mengajarkan persamaan derajat (budak & tuan sama di hadapan Allah).

-     Nabi Muhammad saw. berdakwah di Mekkah selama 13 tahun, 3 tahun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, 10 tahun kemudian dilakukan secara terang-terangan. Selama itu, hasil dakwah Nabi tidak banyak menyentuh kaum Quraisy, meski dilakukan selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, tidak banyak orang-orang yang menjadi pengikut nabi, tercatat kurang lebih hanya ada 100-200 orang pengikut saja.

 

2.      Penindasan Kaum Quraisy

Bukan hanya penolakan yang diterima Nabi Muhammad saw. ketika berdakwah di Mekkah, tetapi juga penindasan hingga ancaman pembunuhan. Kaum Quraisy menentang keras dakwah Nabi Muhammad, mereka menyakiti Nabi dan para sahabat terutama para sahabat yang lemah seperti dari kalangan budak: Bilal, keluarga Ammar bin Yasir hingga Ibu Ammar yang namanya Sumayyah mati terbunuh karena siksaan yang luar biasa berat. Sumayyah adalah wanita Islam pertama yang mati dalam keadaan syahid di tangan Abu Jahal, seorang pembesar Quraisy yang paling menentang dakwah Rasulullah saw..

Selain menyiksa, kaum Quraisy juga memboikot umat Islam. Memboikot artinya menolak berhubungan dan bekerja sama dengan kaum muslim. Apa saja yang diboikot? Berikut penjelasannya.

-     Kaum muslim diboikot tidak boleh berdagang. Orang-orang muslim tidak boleh membeli dan menjual apa pun kepada kaum Quraisy. Begitupun sebaliknya, orang Quraisy tidak boleh membeli dan menjual apa pun kepada kaum muslim.

-     Kaum muslim diboikot tidak boleh menikah dengan kaum kafir Quraisy, begitu juga sebaliknya. Yang sudah terlanjur menikah, harus bercerai/diceraikan.

-     Tidak boleh bergaul dengan kaum Muslim. Semua orang Quraisy dilarang bergaul dan berbicara dengan kaum muslim

Meskipun Nabi Muhammad saw. dan para sahabat mendapat banyak tekanan dan siksaan, itu semua tidak membuat Nabi Muhammad saw. berhenti menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Justru pengikut Nabi Muhammad bertambah dari yang awalnya belasan, puluhan hingga menjadi ratusan. Hal ini tentu membuat kaum Quraisy semakin geram sehingga muncul usulan agar melenyapkan/membunuh Nabi Muhammad. Alahmadulillah, sayangnya rencana pembunuhan itu tidak pernah berhasil. Selain itu, Kondisi Mekkah tidak lagi aman untuk beribadah dan berdakwah, sehingga Islam membutuhkan tempat yang aman yang bisa menerima ajaran Islam dengan lapang.

 

3.      Kesempatan Dakwah Baru di Madinah

Islam membutuhkan tempat yang lebih aman untuk berkembang, dengan masyarakat yang terbuka menerima ajaran tauhid. Masyarakat Yastrib hadir menyambut baik agama Islam dan menawarkan penerimaan serta perlindungan kepada Rasulullah saw.

Kesempatan dakwah baru itu ada di kota Yastrib, kota yang sebagian penduduknya sudah mengenal Islam dan memeluknya. Orang-orang mukmin di Yastrib mau menerima kehadiran Rasulullah dan para sahabatnya. Bukan hanya itu, merekalah yang meminta Rasulullah untuk pindah ke kota Yastrib, karena di kota itu dibutuhkan sosok pemimpin yang adil yang bisa menyatukan suku-suku yang awalnya banyak berselisih.

Sebelumnya, penduduk Yastrib sering berkonflik antar suku. Mereka menginginkan pemimpin yang adil dan mampu mendamaikan, dan Nabi Muhammad saw. dipandang tepat untuk itu.

Sebelum Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah, sekelompok penduduk Yastrib sudah pernah berjumpa dengan Nabi pada saat mereka melakukan perjalanan ke Mekkah untuk berziarah ke Ka’bah. Nabi menemui rombogan jamaah dari Yastrib untuk mengajak mereka masuk Islam. Mereka tertarik pada ajakan Nabi Muhammad yang kemudian mereka masuk Islam dan dilakukanlah sumpah setia (baiat) kepada Nabi di bukit Aqabah. Mereka bersyahadat (masuk Islam), berjanji setia kepada Nabi, menerima ajaran Islam, dan siap melindungi beliau.

Penduduk Yastrib yang pulang dari Mekkah setelah dilakukannya Baiat Aqabah, menyebarkan Islam kepada penduduk di kotanya, ditemani sahabat nabi bernama Mus’ab bin Umair yang diutus khusus oleh Nabi untuk menemani dakwah mereka.

 Letak kota Yastrib berada di jalur perdagangan, ketika cahaya Islam sudah sampai di kota Yastrib, Islam bisa cepat menyebar ke berbagai daerah. Medannya juga lebih aman dibanding Mekkah.

Ketika Nabi Muhammad dan para sahabat tiba di Yastrib, Nabi mengganti nama kota itu menjadi Madinah hingga nama itu dikenal sampai sekarang. Penduduk Madinah yang sudah masuk Islam benar-benar menjadi Anshar (penolong). Mereka menyambut kaum muslim yang berhijrah dari Mekkah (Muhajirin) dengan penuh persaudaraan.

 

4.      Perintah Allah dan Strategi Dakawah

Hijrah bukan sekadar strategi yang dirancang oleh Rasulullah saw., tetapi hijrah  adalah perintah langsung dari Allah sebagai jalan keselamatan dan langkah baru bagi perkembangan Islam.

Selama 13 tahun Nabi Muhammad melakukan dakwah di Mekkah, tetapi belum membuahkan hasil yang banyak, justru Nabi dan para sahabat menerima banyak tekanan dan penindasan. Kalau hijrah memang murni kemauan Nabi, bukankah pasti sudah dilakukan sejak lama? Karena perintah hijrah dari Allah Swt. belum turun, makanya Nabi tetap bertahan melakukan dakwah di Mekkah dengan segala ujiannya. Ketika perintah hijrah dari Allah Swt. suda turun, barulah Nabi dan para sahabat hijrah/pindah dari Mekkah.

Salah satu ayat yang menunjukkan tentang perintah hijrah ada di dalam Al-Qur’an, di antaranya:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (karena tidak mau berhijrah), malaikat berkata: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)’. Malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dari sana?’ Maka, tempat mereka itu (neraka) Jananam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 98)

Hijrahnya Nabi Muhammad saw. dan para sahabat juga merupakan strategi dakwah, agar agama Islam dan ajarannya bisa lebih dikenal secara luas, tidak hanya di satu kota seperti waktu di Mekkah. Dengan Nabi Muhamamd saw. dan para sahabat hijrah ke Madinah, Islam semakin berkembang pesat dan meluas ke seluruh jazirah Arab karena di kota itu, kaum muslim tidak lagi menerima siksaan. Madinah kemudian menjadi pusat peradaban Islam pertama.

Pamekasan, 07 Oktober 2025


*Tulisan ini dibuat dalam rangka sebagai materi ajar Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) untuk Fase B/Kelas 4, dengan tema: Kisah Hijrah Nabi Muhammad saw.  ke Madinah

Komentar